Sehat cara Rasulullah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam catatan sejarah Islam disebutkan bahwa selama hidupnya beliau hanya pernah sakit sebanyak dua kali, yaitu di saat pertengahan hidup dan menjelang wafatnya. Itu pun hanya berlangsung sebentar serta hampir tidak merepotkan masyarakat.
Kemampuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga kesehatannya hingga hanya dua kali menderita sakit, adalah satu catatan sejarah dan prestasi yang luar biasa. Itu merupakan prestasi pengendalian kesehatan yang langka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar, Allah Subhanawataala sangat membenci manusia yang lalai. Apalagi sampai mengganggu serta membuat bencana kesehatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dari hal-hal kecil seperti berolahraga, menggosok gigi, dan menyisir rambut. Aktivitas tersebut, oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipandang sebagai ibadah, yang berarti berpahala.
Banyak tokoh dunia seperti Napoleon Bonaparte dan Von Goethe yang kagum terhadap kemampuan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga kesehatan. Hanya dengan fasilitas yang serba sedikit, beliau bisa menjaga kesehatan, dari rambut sampai telapak kaki, baik dalam maupun luar, dari tahun ke tahun.
Apa resep yang dipergunakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabnya adalah kedisiplinan. Pertama, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu bangun menjelang fajar. Selesai shalat tidak tidur lagi, tetapi terus mengucapkan zikir, mengaji, serta mencari nafkah. Bangun menjelang fajar memang lebih nyaman daripada bangun setelah terbit matahari karena bisa membuat tubuh sehat, nyaman, dan bugar.
Kedua, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Beliau makan untuk keperluan hidup, bukan hidup untuk makan. Ketiga, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila marah tanpa emosi, meskipun dengan tujuan positif. Marah yang disertai dengan emosi, tidak menunjukkan keikhlasan dan kecintaan terhadap yang dimarahinya.
Beliau marah seratus persen karena Allah Subhanawataala. Marah beliau seperti marah seorang ayah terhadap anak yang sedang main-main dengan senjata tajam. Artinya, marah beliau hanya tampak dari wajah, tetapi nurani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan sikap kasih sayang.
Keempat, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah minum sambil bernapas. Air yang beliau minum selalu dari wadah tertutup. Menurut beliau, air dari wadah terbuka mudah terkena debu.
Kelima, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mudah tersugesti bila dihadapkan pada suatu kondisi (kesehatan) yang tidak menguntungkan. Karena bagi beliau, gampang terpengaruh tidak menunjukkan sikap sabar. Maksud sugesti di sini ialah menanggapi suatu situasi yang menimpa tubuh dengan perasaan secara berlebihan.
Sebagai manusia, kepekaan fisik Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamterhadap lingkungan sama saja dengan kita. Ini perlu ditegaskan, agar jangan sampai menimbulkan kesan bahwa beliau sangat jarang sakit karena manusia pilihan.(Salman Darajat)
Sumber: republika, 25 April 2006
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaralatuh
Istilah Pacaran yach tentunya tak asing lagi dari kita, bahkan Penomena seperti menjadi ikutan. Padahal Pacaran itu adalah bukan Syari'at dalam Islam adanya. Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang-orang kafir negeri Barat dan lainnya, kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam (kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Syariat Islam yang agung ini datang dari Rabb semesta alam Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan tujuan untuk membimbing manusia meraih maslahat-maslahat kehidupan dan menjauhkan mereka dari mafsadah-mafsadah yang akan merusak dan menghancurkan kehidupan mereka sendiri.
Ikhtilath (campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram), pergaulan bebas, dan pacaran adalah fitnah (cobaan) dan mafsadah bagi umat manusia secara umum, dan umat Islam secara khusus, maka perkara tersebut tidak bisa ditolerir. Bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-Ma`idah: 79-78).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:
“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma).
Maka, Pacaran berarti menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri darinya. Hal itu karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syariat sebagai berikut:
1]. Ikhtilath, yaitu bercampur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umatnya dari ikhtilath, sekalipun dalam pelaksanaan shalat. Kaum wanita yang hadir pada shalat berjamaah di Masjid Nabawi ditempatkan di bagian belakang masjid. Dan seusai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam sejenak, tidak bergeser dari tempatnya agar kaum lelaki tetap di tempat dan tidak beranjak meninggalkan masjid, untuk memberi kesempatan jamaah wanita meninggalkan masjid terlebih dahulu sehingga tidak berpapasan dengan jamaah lelaki. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih Al-Bukhari. Begitu pula pada hari Ied, kaum wanita disunnahkan untuk keluar ke mushalla (tanah lapang) menghadiri shalat Ied, namun mereka ditempatkan di mushalla bagian belakang, jauh dari shaf kaum lelaki. Sehingga ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai menyampaikan khutbah, beliau perlu mendatangi shaf mereka untuk memberikan khutbah khusus karena mereka tidak mendengar khutbah tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim.Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal itu dikarenakan dekatnya shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek, dan jauhnya shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Apabila pada ibadah shalat yang disyariatkan secara berjamaah, maka bagaimana kiranya jika di luar ibadah? Kita mengetahui bersama, dalam keadaan dan suasana ibadah tentunya seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. Maka bagaimana sekiranya ikhtilath itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepatnya mengikuti peredaran darah . Bukankah sangat ditakutkan terjadinya fitnah dan kerusakan besar karenanya?” (Lihat Fatawa An-Nazhar wal Khalwah wal Ikhtilath, hal. 45).
Subhanallah. Padahal wanita para shahabat keluar menghadiri shalat dalam keadaan berhijab syar’i dengan menutup seluruh tubuhnya –karena seluruh tubuh wanita adalah aurat– sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31, tanpa melakukan tabarruj karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka melakukan hal itu dalam surat Al-Ahzab ayat 33, juga tanpa memakai wewangian berdasarkan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan yang lainnya :
“Hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang siapa saja dari mereka yang berbau harum karena terkena bakhur untuk untuk hadir shalat berjamaah sebagaimana dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 53:
“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”
BERSAMBUNG
Ujian apakah gerangan yang sedang melanda dirimu
kini?.
Yang kau balut dengan senyuman?.
Dan jika sudah tak kuasa menahan...
Kau tumpahkan pada orang-orang yang terpercaya...
Ataupun lewat sarana dan media...
Sahabatku...
Yang Menciptakan kita berkata:
"I'lamuu annamal hayaa tuddun-yaa la 'ibun".
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu
hanyalah suatu permainan. (QS. Al Hadiid 57:20)
Kita ini sesungguhnya sedang bermain dalam sebuah
panggung kehidupan yang diciptakan_Nya.
Dengan berbagai peran, keadaan dan penjiwaan...
"Wa annahuu huwa adhaka wa abkaa".
Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa
dan menangis".
(QS. An Najm 53:43)
Adegan apa yang sedang engkau perankan wahai
sahabatku???
Seorang yang kaya...ataukah miskin?.
("Kaya Jiwa ataukah harta?". "Miskin harta ataukah
bathin?")
Seorang insan yang penuh duka...ataukah seorang hamba
yang senantiasa ceria dan bahagia?.
Suatu ketika peran yang kau mainkan akan memaksamu
untuk menangis...
Dan lain ketika memaksamu untuk tertawa...
Duniapun penuh warna dan langitpun terpesona...!!!
Masya Allah...Itulah Kuasa_Nya Allah...
(Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaa ha ilallah,
wallaahu Akbar...)
Karena itu sahabatku...
Bermainlah dengan penuh rasa cinta dan kesabaran.
Niscahya engkau ta'kan sulit melakukannya.
Ikuti petunjuk pengarah adeganmu.(Rasul Allah Saw)
Agar Sang Penulis Skenario Cerita (Allah Swt) merasa
senang.
Karena engkau mampu memainkannya dengan baik.
Ingat!!!
Jangan mau terperdaya...
Karena sungguh!!!
Setiap adegan yang kau lakukan akan senantiasa
dinilai.
Dengan cermat dan penuh pehitungan !!!
Aduhai gerangan.
Kini kau sulit memainkannya.
Adegan itu semakin hari semakin berat saja...
Terlalu payah dan melelahkan...
Begitu banyak menguras energi dan fikiran.
Rasamupun tak karu-karuan!
Tanpa disadari engkaupun bergumam, "Aku tak bisa...!"
Yach...begitulah kita manusia...!!!
Duhai yang dilanda duka.
Laa tahzan walaa takhaaf.
Janganlah sedih dan janganlah takut.
Sang Penulis Skenario berbisik lembut pada Qalbumu.:
"Maa wadda 'aka rabbuka wamaa qalaa".
Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak pula benci
kepadamu".
(QS. Ad Dhuha 93:3)
"Asaabakum ghamman-bighammin-likailaa tahzanuu 'alaa
maa faa takum walaa maa a shaa bakum".
Allah menimpakan padamu kesedihan atas kesedihan,
supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang
luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa
kamu. (QS. Ali Imran 3:153)
Dekati Dia.
Bukankah dengan Sifat Maha Penyayang_Nya engkau sebut
Dia Yang Tersayang?!...
Bukankah dengan Sifat Maha Pengasih_Nya engkau sebut
Dia Sang Kekasih?!...
Mengadulah Pada Kekasihmu...!!!
Dia akan menguatkan jiwamu, menentramkan Qalbumu.
Dia sebaik-baik penolong...Sebaik-baik pelindung...
Percayakan semua pada_Nya.
Karena dalam Cinta ada kepercayaan!!!
O.O.O.Ini bukan saat yang tepat untukmu sahabatku.
Lihat di kanan dan kirimu.!
Hiruk pikuknya mebuatmu sulit untuk berkonsentrasi.
"Inna laka finnahaa ri sabhan-thawiilaa".
Sesungguhnya bagimu pada siang hari mempunyai urusan
yang banyak".
(QS. Al Muzzammil 73:7)
Karena itu menyepilah.
Ucapkan pada_Nya.
"Yaa Habibi.Wahai Kekasihku.Aku ingin mengadu
pada_Mu!"
Dengan kelembutan_Nya Ia berfirman:
"Qumil laila".
Bangunlah untuk shalat di malam hari. (QS. Al
Muzzammil 73:2)
Nisfahuu awin-qush minhu qaliilaa".
(Yaitu) seperduanya atau kurang dari padanya sedikit.
(QS. Al Muzzammil 73:3)
"Au zid 'alaihi".
Atau lebih atasnya. (QS. Al Muzzammil 73:4)
Shalatlah dengan penuh rasa cinta dan kerinduan.
Itu akan membuatmu khusyu'...
Kemudian...
Tumpahkanlah segala apa yang menyesakkan dadamu.
Adukan semua pada_Nya...
Dengan ungkapan pilu...ataupun diiringi tangisan yang
lembut...
Kerena sesungguhnya...
Dia adalah Sebaik-Baik Pendengar.
Dan Berdo'alah...
Dengan penuh harap, rendah diri, dan suara
perlahan...seperti do'a yang diajarkan_Nya:
"Rabbi adkhilnii mudkhala sidqin-wa akhrijnii mukhraja
sidqin-waj 'al lii min-ladunka sulthaanan nashiraa".
Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar
dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar,
dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan
yang menolong. (QS. Al Israa 17:80)
"Jaa al haqqu wazahaqal baa thilu, innalbaa thila
kaana zahuu qaa".
Telah datang yang benar dan telah lenyap yang bathil.
Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti
lenyap. (QS. Al Israa 17:81)
Ataupun do'a-do'a lain yang menjadi keinginan...
Hantarkan ia dengan bahasa yang mudah bagimu...dan
Jangan pernah merasa sungkan...
Sabda Rasullullah Saw:
'Sesungguhnya Roobmu itu pemalu lagi pemurah, merasa
malu apabila tidak mengabulkan do'a kepada hamba_Nya
yang mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a lalu
dikembalikan kosong.
Selanjutnya...
"Faqra uu maa tayassara minal qur aan".
Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Qur'an. (QS. Al
Muzzammil 73:20)
"Warattilil qur aana tartiilaa".
Dan Bacalah Qur'an itu secara perlahan-lahan. (QS. Al
Muzzammil 73:4)
Untuk apa Ia menyuruhmu membaca Surat Cinta_Nya
(Qur'an) wahai sahabatku?...
"Nu nazzilu minal qur aani maa huwa syifaa
un-warahmatun-lilmu'miniin".
Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi
penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.
Al Israa 17:82)
Nah.bagaimana keadaanmu sekarang?...
Terasa ringan bukan?
Insya Allah.
Dan saat-saat yang indah bersama_Nya ini tak'kan
pernah kau lupakan.
Dimana engkau akan senantiasa rindu dan ingin s'lalu
menjumpai_Nya.
Jika tak'bertemu sehari saja.
Ada sesuatu yang hilang.
Iapun semakin sayang dan semakin cinta padamu.
Masya Allah.
Tetapi sahabat.
Tahukah dirimu kenyataan yang sebenarnya?...
Sesungguhnya Sang Kekasih itu senantiasa ada
bersamamu.
Tak pernah jauh.
Dia begitu dekat.sangat dekat.
Mampukah engkau menangkap keberadaan_Nya?...
(QS. Al Baqarah 2:186), (QS. Qaaf 50:16), (QS. Al
Baqarah 2:115), (QS. Al Hadiid 57:4)
Dia ada di sini.
Melihat aku menulis untukmu.
Dan melihatmu.
Yang kini sedang meresapinya.
Karena ini juga adalah suatu adegan.
Bagaimana dengan adegan selanjutnya?.
Dengarkan bisik Qalbumu.
Dan engkaupun akan tahu jawabannya.!
"Waminal laili fatahajjad bihii naa filatan-lah, 'asaa
an-yab 'asaka rabbuka maqaa man-mahmuudaa(n)".
Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu
sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan
Tuhanmu mengangkat kamu ketempat yang terpuji. (QS. Al
Israa' 17:79)
"Inna naa syiatal laili hiya asyaddu wath an-wa aqwamu
qiilaa".
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih
menguatkan (jiwa) dan bacaan di waktu itu lebih
berkesan. (QS. Al Muzzammil 73:6)
"Nazzalahuu ruuhul qudusi min-rabbika bil haqqi
liyusabbital laziina aamanuu wahudan-wabusyraa lil
muslimiin".
Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari
Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati
orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk
serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah
diri (Kepada Allah Swt). (QS. An Nahl 16:102)
Wabillaahi taufiq walhidayah
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
